Warung Bebas

Kamis, 14 Juni 2012

Sinopsis The Moon That Embraces The Sun Episode 7

"Kami harus pergi sekarang." ujar Nok Young pada gadis bertudung.
Gadis itu membuka tudungnya. "Sebenarnya aku ingin ikut denganmu, tapi mungkin aku tidak akan sanggup." ujar gadis itu. "Jadi paling tidak biarkan aku mengantar kepergianmu."
Nok Young menutup kebali tudung gadis itu.
"Jika ada orang yang mencarimu ketika aku tidak ada, kau harus bersembunyi." perintah Nok Young.
"Apakah akan ada tamu yang datang?" tanya gadis itu.
"Kau tidak boleh membiarkan orang itu masuk ke hatimu." perintah Nok Young tegas. "Dan kau tidak boleh berada dekat dengannya. Kau mengerti?"
Gadis itu kelihatan bingung. Siapakah orang yang dimaksud Nok Young?
Gadis bertudung itu adalah Yeon Woo, yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.
Kapal yang akan ditumpangi Nok Young tiba.
Di dalam kapal itu, seorang pria terbangun.
"Tidurmu nyenyak?" tanya temannya. "Walaupun kapal berjalan tidak keruan, kau tetap saja bisa tidur sambil mengorok."
Si pria tertawa. Pria itu tidak lain adalah Yang Myeong.
Yang Myeong melihat ke kapal. "Kenapa disini jadi seperti pasar?" tanyanya. "Kenapa ada begitu banyak orang ingin pergi ke desa?"
"Kau tidak tahu?" tanya temannya. "Yang Mulia akan mengunjungi desa hari ini. Jadi orang-orang ini berkumpul untuk melihat Yang Mulia. Jika kau memang tidak tahu, maka hari ini adalah hari keberuntunganmu."
Yang Myeong terdiam seraya bicara dalam hati. "Yeon Woo, apakah kau ingin aku bertemu dengan Yang Mulia?" tanyanya.
Yang Myeong turun dari kapal dan berjalan di darmaga. Tanpa disadarinya, ia melewati Yeon Woo.
Setelah mengantar kepergiaan Nok Young, Seol dan Yeon Woo berjalan kembali ke desa.
Dari kejauhan, mereka mendengar orang-orang berkerumun.
"Dengan ini, kalian bisa melihat Yang Mulia dari tempat yang paling nyaman." kata si penjual. Rupanya ia menjual tiket tempat untuk melihat Raja.
"Ini peluang yang sangat bagus!"
Yeon Woo tersenyum, memandang Seol.
"Kau tidak bisa." tolak Seol.
Yeon Woo memasang tampang memelas.
"Kita tidak bisa." tolak Seol lagi.
Yeon Woo menunduk sedih.
Seol merasa tidak tega, tapi ia berusaha menguatkan diri. Ia menarik tangan Yeon Woo dan mengajaknya pergi.
Yang Myeong juga melihat kerumunan yang sama.
"Berita terbaru!" seru si penjual. "Yang Mulia sudah berada di pintu masuk desa!"
Yang Myeong terkejut. Ia langsung berlari menerobos kerumunan untuk membeli tiket si penjual.
Arak-arakan Raja hampir tiba di desa.
"Kita sudah hampir tiba." kata Hwon. "Buka penutup tandu."
"Tapi udara sangat dingin..." protes kasim.
"Kubilang buka!" perintah Hwon keras.
Kasim membuka penutup tandu Hwon.
"Yang lebih penting dari dingin, adalah orang-orang yang berkumpul untuk melihatku." ujar Hwon, memperhatikan rakyatnya. "Bagaimana mungkin aku membuat mereka kecewa?"
"Kalau begitu, perlihatkan wajah Anda yang ramah, Yang Mulia." ujar kasim. "Tersenyumlah sedikit."
"Negara Yue Seo Si dikenal dengan keindahan yang tak terkalahkan karena senyumnya." ujar Hwon. "Tapi keindahan yang sebenarnya tidak akan bisa dihilangkan oleh wajah yang cemberut. Bukankah menurutmu sangat menyepelekan jika seorang Raja berwajah seperti ini?"
Hwon terlihat agar tersenyum.
Woon tersenyum mendengar perkataannya.
Seol dan Yeon Woo mengantri untuk lewat jalan agar bisa melihat Raja.
"Kau berjanji, hanya sebentar saja." ujar Seol cemas.
"Aku tahu." ujar Yeon Woo tenang.
Di depan mereka, ada seorang wanita miskin yang ingin mengantar anaknya melihat Raja. Tapi penjaga melarang.
"Jika kalian ingin melihat Raja, paling tidak kalian harus mengenakan kain sutera." ujar penjaga.
"Kumohon..." Wanita itu memohon-mohon pada penjaga.
Penjaga marah dan mendorong wanita itu hingga jatuh.
Yeon Woo menolong wanita itu berdiri.
"Kau bertindak sangat kasar pada wanita." ujar Yeon Woo pada penjaga. "Apakah orang yang miskin atau orang rendahan tidak punya hak untuk melihat Yang Mulia? Dimana aturan itu tertulis?"
"Siapa kau?" tanya penjaga, kelihatan kesal. "Apa pekerjaanmu?"
"Shaman." jawab Yeon Woo tanpa ragu.
"Seorang shaman rendahan! Beraninya kau melihat dan bicara padaku seperti itu!" Si penjaga hendak maju dan memukul Yeon Woo, namun Seol langsung menahan tangannya.
Si penjaga malah marah-marah dan menghina Seol, mengira Seol seorang pria.
Seol hendak mengeluarkan pedangnya, namun Yeon Woo melarang.
Yeon Woo maju mendekati di penjaga. "Apa kau ingin tahu alasan kenapa istrimu lari dari rumah?" tanyanya. "Itu karena kau sering memukulinya dengan tanganmu itu. Kau mabuk dan pulang untuk memukuli istrimu. Kau pantas menerima kalau ia lari dengan orang yang lebih muda. Kau merasa tersiksa jika makan, bukan? Hanya dengan mabuk maka kau bisa mengurangi rasa sakitmu. Jadi kau mengganti makananmu dengan arak. Jika kau tidak berhenti minum, aku takut kau akan mati tidak lama lagi. Kau tidak akan bertahan lebih dari 1 tahun."
Mendadak dari kejauhan, orang-orang yang membeli tiket di penjual tadi berlari masuk. Si penjaga langsung mengejar mereka dan meninggalkan antrean Yeon Woo.
Yeon Woo langsung menyuruh orang-orang lewat.
Seol marah karena lagi-lagi Yeon Woo membuka identitasnya sebagai shaman di depan orang lain.
"Kau tidak punya kemampuan sebagai shaman!" seru Seol. "Kau membodohinya..." Mendadak Seol tersadar. "Kau tidak punya kemampuan, bagaimana kau tahu kalau istrinya punya lelaki lain?"
"Aku tidak menggunakan sihir, tapi menggunakan logika." ujar Yeon Woo. "Mulutnya bau alkohol dan hidungnya merah, maka ia pasti sering mabuk-mabukan. Ia bertindak kasar pada wanita, maka aku yakin sikapnya tidak akan berbeda di rumah."
"Tapi bagaimana kau yakin kalau istrinya lari dari rumah?" tanya Seol penasaran.
"Lubang di pakaiannya besar dan belum dijahit." jawab Yeon Woo. "Dan terlebih lagi ia sangat marah ketika melihat seorang pria muda."
"Pria? Maksudmu aku?" tanya Seol.
Yeon Woo mengangguk dan tertawa.
Dari kejauhan, terdengar ribut-ribut. Para penjaga berlari mengejar Yang Myeong.
Yeon Woo hanya tersenyum melihat kejadian itu.
"Yang Mulia tiba!" terdengar suara.
Penjaga melepaskan Yang Myeong dan berjaga. Kebetulan, penjaga yang ribut-ribut dengan Yeon Woo berjaga di hadapan Yeon Woo. Yeon Woo memandang penjaga itu tajam.
Semua orang bersujud menyambut Raja mereka.

Ketika Hwon hampir melewati Yeon Woo, seekor kupu-kupu kuning menyala terbang mendekati Yeon Woo.
Yeon Woo mendongak melihat si kupu-kupu.
Yang Myeong mendongak untuk melihat Hwon. Ia tersenyum.
Tanpa sadar, Yeon Woo berdiri karena mengikuti terbangnya kupu-kupu.
Kupu-kupu itu terbang ke arah Hwon, membuat Yeon Woo melihat Hwon.
Yeon Woo terpaku melihat Hwon dan tanpa terasa air matanya menetes.
Dari jauh, Yang Myeong tanpa sengaja melihat Yeon Woo yang sedang berdiri memandang Hwon. Saat itu ia tidak berpikir apa-apa. Ia kembali bersujud.
Mendadak Yang Myeong merasakan sesuatu. Ia mendongak lagi menatap Yeon Woo.
.
Yeon Woo seakan kehilangan dirinya saat ia menatap Hwon.
"Nona.." bisik Seol, menyuruh Yeon Woo kembali bersujud.
Namun Yeon Woo tidak mendengar.
Seol terpaksa menarik Yeon Woo dan melarikan diri sebelum penjaga menangkap mereka.
"Tangkap dia!" seru penjaga seraya mengejar Yeon Woo dan Seol.
Yang Myeong ikut berlari mengejar dan penjaga malah ikut mengejarnya juga.
"Apa ada?" tanya Hwon.
"Kelihatannya ada wanita yang menyebabkan keributan karena ia melarikan diri tanpa alasan." ujar kasim. "Kami sudah mengirim orang untuk mengejarnya."
Seol menggandeng Yeon Woo melarikan diri.
Yeon Woo merasakan kilatan-kilatan masa lalunya, yang saat itu belum ia sadari kalau itu adalah masa lalunya.
Yeon Woo dan Seol berhasil melarikan diri dengan bersembunyi.
"Nona, apa kau sudah gila?" tanya Seol. "Bagaimana bisa kau melihat langsung ke wajah Yang Mulia?"
Yeon Woo masih terlihat sangat terpukul. "Seol..."
"Apa?!" seru Seol kesal.
"Apakah sebelumnya kita pernah dikejar-kejar seperti ini?" tanya Yeon Woo. "Apakah kita pernah seperti ini sebelumnya?"
"Jika dulu kita pernah dikejar seperti ini, apakah kau pikir saat ini kita masih hidup?" ujar Seol.
Yeon Woo menangis. "Tapi perasaan ini... mengingatkanku pada seseorang." katanya.
Seol terdiam.
Di lain sisi, Yang Myeong kehilangan jejak Yeon Woo.
"Apa yang kuharapkan?" gumam Yang Myeong dalam hati. "Ia sudah mati. Bukankah ia sudah beristirahat dengan tenang?"
Saat mandi, Hwon kelihatan sedang dalam mood yang buruk.
"Ada sesuatu yang menggangguku." ujar Hwon.
Kasim Hyeon Sun langsung cemberut sedih.
"Maksudku bukan kau." kata Hwon.
Kasim langsung tersenyum senang. "Lalu apa yang membuat Anda tidak puas, Yang Mulia?" tanyanya.
"Pakaian sutera, sepatu sutera, wajah yang bersih." jawab Hwon.
"Apa?"
"Semua orang yang bersih dan berpakaian mewah." tambah Hwon. "Kau tidak bisa melihat orang-orang miskin. Sungguh hebat dan damai. Aku sungguh raja yang bijaksana." Hwon menyindir dirinya sendiri.
"Mungkin itu karena mereka hanya memperlihatkan hal yang baik." jawab Kasim.
"Kau pikir aku datang jauh-jauh ke Won Yang hanya untuk melihat kekayaan?" tanya Hwon kesal.
Hwon berpaling pada Woon. "Woon, kau pasti lelah dari perjalanan panjang." katanya. "Apakah kau mau bergabung bersamaku di sini?"
Kasim dan para dayang terkejut, mengira terjadi sesuatu antara Woon dan Hwon.
Kasim langsung menyuruh para dayangnya keluar.
"Yang Mulia, bagaimana jika desas-desus ini tersebar ke istana?" tanya kasim cemas. "Kenapa kau bercanda seperti ini?"
"Desas-desus apa?" tanya Hwon santai.
"Yang Mulia terus menjaga jarak dengan Ratu." kata kasim. "Dan hanya memperbolehkan Woon disisi Anda. Jadi desas-desus bahwa kau menyukai laki-laki..."
"Cinta diantara sesama laki-laki." ujar Hwon santai.
"Kumohon jangan membuat lelucon mengenai Woon lagi!" ujar kasim sewot.
"Kenapa?" tanya Hwon, memandang kasim. "Apakah kau yang mau bergabung denganku disini?"
"Kurasa, obat sudah siap." ujar kasim seraya berjalan keluar dengan langkah gontai.
Hwon tersenyum. "Akhirnya hanya tinggal kita berdua, Woon."
Yang Myeong datang untuk mengunjungi Hwon.
Kasim mengumumkan kedatangan Yang Myeong, namun di dalam kamar mandi Woon dan Hwon menghilang.
"Yang Mulia!!!!!!!!!!" teriak kasim histeris.
Hwon dan Woon berkunjung ke sebuah tempat orang miskin.
"Ini sungguh sangat berbeda dengan yang kulihat sebelumnya." ujar Hwon.
"Tolong berikan uang." ujar salah seorang disana pada Hwon dan Woon.
Mendadak, seorang anak menabrak mereka.
"Maafkan aku, Tuan." ujar anak itu. "Aku sungguh minta maaf."
Hwon membantu anak itu berdiri.
"Kau sepertinya sedang terburu-buru." ujar Hwon. "Kau mau kemana?"
"Kakakku di rumah sendirian, jadi aku ingin membawakan ini untuknya." jawab anak itu, menunjukkan mangkuk kayu yang dibawanya.
Hwon melihat isi mangkuk itu. Isinya adalah sayuran yang sudah kering.
"Kau tidak punya orang tua?" tanya Hwon.
"Ibuku sudah meninggal karena sakit dan satu bulan yang lalu ayahku dipaksa membangun Paviliun Buyeong." jawab anak itu sambil menangis. "Setelah itu, kami tidak pernah berhubungan lagi."
"Siapa nama ayahmu?" tanya Hwon seraya menyerahkan dua buah koin emas di tangan anak itu. "Aku akan mencari ayahmu dan mengembalikan dia ke rumah."
Setelah berterima kasih pada Hwon, anak itu berlari pergi.
Woon menyadari ada seseorang yang mengintai mereka.
"Ada mata-mata." bisik Woon.
"Aku tahu." ujar Hwon. "Mungkin ini hadiah dari para menteri. Sungguh hebat ia bisa mengikuti kita sampai disini. Ayo kita sedikit bermain dengannya."
Hwon tersenyum. Ia berbalik dan berlari. Woon mengikutinya.
Hwon dan Woon berhasil lolos dari si mata-mata.
Hwon tertawa senang, sepertinya sangat menikmati kejar-kejaran mereka saat itu.
"Lebih baik kita kembali, Yang Mulia." ujar Woon.
"Ya, ayo kita kembali."
Mendadak hujan turun.
"Ini Yeon Woo." ujar Hwon, memandang sedih pada tetesan air hujan. "Kau datang untuk mengunjungiku kan, Yeon Woo?"
Hwon menoleh dan melihat bayangan Yeon Woo sedang tersenyum padanya.
Yeon Woo berjalan menjauh. Hwon bergegas berlari mengikutinya.
"Jika mereka ditakdirkan untuk bertemu, maka mereka pasti akan bertemu." ujar pria shaman.
"Jadi, kau sengaja memanggilku saat Yang Mulia pergi ke luar?" tanya Nok Young.
"Penyakit Yang Mulia bukanlah penyakit ringan. Tapi orang yang seharusnya melindungi Yang Mulia menjalani hidup yang berbeda. Karena itulah penyakit Yang Mulia tidak pernah sembuh."
Nok Young terkejut. "Apakah kau ingin membantu mereka memenuhi takdir mereka?" tanyanya.
"Takdir itu bukan ditentukan oleh manusia, tapi ditentukan oleh Tuhan." jawab pria itu.
"Takdir mereka sudah berakhir." ujar Nok Young. "Yeon Woo sudah melupakan masa lalunya. Ia tidak lagi terikat dengan masa lalu."
"Suatu hari nanti, ingatannya akan kembali."
Nok Young sangat mencemaskan Yeon Woo.
Sejak pertemuannya dengan Hwon, Yeon Woo menjadi diam.
Seol menjadi sangat cemas.
"Seol, sekarang aku mengerti." kata Yeon Woo. "Kenangan-kenangan itu adalah miliknya. Aku melihat kenangan dan kesedihan orang itu. Aku bisa melihat semua itu. Sekarang, aku menjadi shaman yang sesungguhnya."
Seol hanya diam dan menunduk.
Yeon Woo bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah.
Kabut sangat tebal malam itu.
Hwon dan Woon masih berjalan tanpa tujuan.
"Kabut sangat tebal." ujar Hwon. "Kelihatannya kita tersesat. Sejak tadi kita hanya berjalan memutar."
"Maafkan hamba, Yang Mulia." ujar Woon.
"Kenapa kau minta maaf?" tanya Hwon. "Kita tersesat karena kesalahanku."
Dari kejauhan, Hwon melihat sebuah cahaya.
"Apakah itu... bulan?" tanya Hwon dalam hati.
"Aku sudah menunggumu." Rupanya cahaya tadi adalah lentera yang dibawa oleh Yeon Woo kecil.
Yeon Woo kecil dalam benak Hwon berubah menjadi Yeon Woo dewasa.
Yeon Woo mengajak Hwon dan Woon ke rumahnya.
Ketika Yeon Woo berada di dapur untuk menyiapkan minuman, Seol mendekatinya.
"Nona, tidakkah kau tahu siapa mereka?" tanya Seol.
"Huss." Yeon Woo menyuruh Seol diam. "Mereka mungkin sedang mengadakan kunjungan diam-diam. Kita berpura-pura saja kalau kita tidak tahu siapa mereka."
"Lalu kenapa kau membawa mereka kemari kalau sudah tahu siapa mereka?" tanya Seol.
"Jadi aku harus membiarkan mereka tersesat tanpa menolong?" protes Yeon Woo.
Yeon Woo masuk ke ruangan tempat Hwon dan Woon duduk. Ia menuangkan minuman untuk mereka.
"Arak hangat bisa membantu kalian agar tidak kedinginan." ujar Yeon Woo. "Meja ini hanya untuk satu orang, jadi maaf aku tidak bisa menyediakan makanan lain."
Hwon menatap Yeon Woo dalam-dalam.
Setelah mempersilahkan Hwon dan Woon untuk makan dan minum, Yeon Woo hendak keluar.
"Tolong duduklah disini sebentar." kata Hwon.
"Untuk siapa meja ini disiapkan?" tanya Hwon. "Apakah kau menunggu seseorang saat hari hujan? Apakah kau sedang menunggu seseorang yang spesial?"
"Aku sedang menunggu ibu asuhku kembali." jawab Yeon Woo. "Jika tidak ada yang kau butuhkan lagi, aku akan pergi."
"Kau mengatakan bahwa kau adalah shaman?" tanya Hwon. "Mana mungkin shaman memiliki rumah seperti ini?"
Hwon melihat ke arah rak buku di samping mereka.
"Apakah buku-buku ini milikmu?" tanya Hwon.
"Benar." jawab Yeon Woo. "Aku membaca buku-buku itu agar lebih mengerti mengenai dunia. Aku bekerja sebagai shaman bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk membantu orang lain."
Hwon terdiam mendengar jawaban Yeon Woo. Hal itu mengingatkannya pada Yeon Woo kecil.
"Ini tidak mungkin." ujar Hwon dalam hati. "Ia sudah mati. Ia tidak mungkin masih hidup. Wanita ini hanya mirip dengannya. Ini adalah mimpi. Ini hanyalah halusinasi."
Hwon mengambil gelas dan langsung minum, berusaha mengalihkan pikirannya.
Setelah minum, Hwon menuangkan minuman juga untuk Woon. Namun Woon hanya diam.
"Kau orang yang tidak bisa menjalankan tugasmu dengan benar." kata Yeon Woo. "Kau tidak tahu siapa aku, kau juga tidak tahu minuman apa ini, tapi kau malah menolak untuk mencicipi. Apakah kau hanya bisa menggunakan pedang ini untuk melindungi Raja?"
Mendengar perkataan itu, Hwon langsung menarik tangan Yeon Woo.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Hwon.
"Apa maksudmu?" tanya Yeon Woo.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku adalah Raja Joseon?" tanya Hwon lagi.
Yang Myeong berbaring seraya memikirkan Yeon Woo.
"Jiwamu masih ada di dunia ini." ujar Yang Myeong. "Apakah kau ingin bertemu Yang Mulia? Walaupun kau tidak ingin menemuiku, tapi aku tetap merasa sangat senang. Tolong carilah aku dikehidupanku selanjutnya."
Yang Myeong tak kuasa menahan air matanya.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hwon.
"Aku hanyalah shaman biasa." jawab Yeon Woo. "Aku tidak mungkin pernah menemui Yang Mulia."
"Mana mungkin aku berani membohongi Yang Mulia?"
"Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau aku Raja Joseon?!" teriak Hwon. "Katakan padaku!"
"Aku melihat Yang Mulia hari ini saat melewati desa." jawab Yeon Woo.
Hwon melepas tangan Yeon Woo dengan kecewa.
Hwon tersenyum, meledek harapannya sendiri. Harapan yang ingin melihat Yeon Woo kembali hidup.
"Woon, hujan sudah berhenti." kata Hwon. "Sudah waktunya kita pergi."
Hwon dan Woon berjalan melangkah keluar dari rumah Yeon Woo.
"Siapa namamu?" tanya Hwon pada Yeon Woo dari luar.
"Maafkan aku." jawab Yeon Woo. "Aku tidak memiliki nama."
"Walaupun kau adalah seorang shaman, tapi bagaimana mungkin kau tidak memiliki nama?" tanya Hwon kesal.
"Karena takut terikat takdir denganku, ibu asuhku tidak memberiku nama." jawab Yeon Woo.
Hwon memandang bulan di langit.
"Kalau begitu, aku akan memberimu nama Wol." ujar Hwon. Wol artinya adalah bulan. "Inilah bayaranku atas minuman hangatmu."
Yeon Woo dewasa kini menjadi Wol.
"Kini aku memiliki nama." ujar Wol.
Hwon dan Woon kembali ke rumah. Yang Myeong sudah ada disana, menunggu.
Hwon tidak lagi segembira dulu jika melihat Yang Myeong.
"Bagaimana kabar Anda, Yang Mulia?" sapa Yang Myeong sopan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hwon datar. "Mendadak kau muncul setelah bertahun-tahun. Apakah kau enggan menemuiku walau sebentar? Kau masih saja terlihat sangat tampan."
Hwon berkata seperti itu sambil cemberut, namun kemudian tawanya mengembang.
Yang Myeong tersenyum lega, begitu pula Woon dan Kasim Hyeong Sun.
Yang Myeong, Hwon dan Woon duduk di sebuah ruangan.
Yang Myoeng dan Hwon minum. Hwon meminta Woon ikut minum, namun Woon menolak.
"Ketika sedang bekerja, ia tidak akan menyentuh alkohol sedikitpun." kata Yang Myeong.
"Apa kau ingin bertaruh?" tantang Hwon.
"Taruhan macam apa?" tanya Yang Myeong.
"Kau harus menuruti apapun permintaan orang yang bisa membuat Woon minum." ujar Hwon.
"Woon!" panggil Yang Myeong. "Minumlah kemari. Aku akan meminta emas dan harta dari Yang Mulia. Lalu akan kita bagi dua."
Woon hanya diam.
"Dia benar-benar tidak menarik." ujar Yang Myeong, sambil tertawa.
"Woon, kemarilah dan minum." ujar Hwon.
Woon tetap diam.
"Ini perintah Raja." ujar Hwon.
Woon tersenyum dan maju untuk minum.
Yang Myeong tertawa. "Aku mengerti." katanya. "Kau bisa meminta apapun dariku."
"Apakah sampai saat ini... kau masih mengingatnya?" tanya Hwon.
Senyum menghilang dari wajah Yang Myeong, namun ia hanya diam.
"Tolong jawab pertanyaanku." ujar Hwon.
"Yang Mulia..."
"Bukankah kau sudah kalah dariku?" tanya Hwon. "Dan sekarang, kau harus memenuhi permintaanku."
"Walaupun ia masih di hatiku, namun ia tetap saja sudah meninggal." jawab Yang Myeong. "Jika aku ingin melupakannya, maka aku malah makin mengingatnya. Jika aku mencoba mengingatnya, maka aku akan melupakannya. Itulah hati manusia. Aku tidak ingin melupakan, tapi aku juga enggan mengingat. Pada akhirnya, aku lebih memilih untuk mengingat bahwa ia sudah meninggalkan dunia ini."
"Mengingat bahwa ia sudah meninggalkan dunia ini...." gumam Hwon. "Jadi begitu..."
Hwon kembali ke istana.
Di depan para menterinya, ia membahas mengenai pembangunan Paviliun Buyeong.
Salah seorang menteri menjawab bahwa pembangunan paviliun itu sangat sulit dan terbatas waktu. Mereka ingin menghadiahkan paviliun tersebut untuk ulang tahun Ibu Suri.
"Oh, jadi hadiah ulang tahun lebih penting dibandingkan hidup dan mati seseorang?" tanya Hwon tajam.
"Tapi sebelumnya hal ini sudah mendapat persetujuan Yang Mulia." kata Dae Hyeong.
"Aku memang memberi izin." ujar Hwon. "Tapi aku tidak mengizinkan kalian memaksa rakyat menjadi pekerja tanpa bayaran saat musim dingin. Bahkan seorang ayah yang harus melindungi anak-anaknya juga dikirim ke sana. Apakah aku pernah mengatakan kalian boleh melakukan itu?"
"Tapi Yang Mulia, ini adalah proyek besar...."
"Dan satu lagi yang menarik perhatianku." kata Hwon, memotong perkataan menteri. "Kenapa pembangunan itu membutuhkan begitu banyak arang? Ada banyak orang yang dikirim untuk bekerja disana, kemanakah orang-orang itu pergi? Apa yang bisa kalian katakan?"
Para menteri diam.
"Sebelum pergi dari sini, tulis semua para pekerja konstruksi, jadwal proyek dan rincian biaya." perintah Hwon. "Berikan semua itu padaku! Aku sendiri yang akan memeriksa laporan kalian."
Malam itu, diam diam Dae Hyeong menemui Ketua Shaman pengganti Nok Young.
"Sudah berapa tahun kau menjadi Ketua Shaman sementara menggantikan Shaman Jang?" tanya Dae Hyeong.
"Tahun depan adalah tahun kedelapan." jawab wanita itu.
"Aku berniat memberikan kesempatan padamu untuk bisa memperoleh gelar Kepala Shaman Balai Samawi." ujar Dae Hyeong.
"Aku tidak akan pernah melupakan bantuan Anda." ujar wanita itu. "Katakan saja apa yang kau perintahkan."
"Apa kau tahu mengenai kesehatan Yang Mulia?" tanya Dae Hyeong. "Kelihatannya kau tidak tahu. Ketika ia harus sehat, ia sakit dan ketika ia harus sakit, ia sehat."
"Ketika Raja pergi, aku sudah mengubur jimat di istana." ujar wanita itu. "Kita akan segera bisa melihat efeknya."
Dae Hyeong tersenyum. "Besok aku sudah tidak sabar untuk memberi penghormatan pada raja yang sakit." katanya.
Hwon terdiam di ruangannya, masih saja mengingat pertemuannya dengan Wol.
Mendadak kasim masuk dan mengatakan kalau Ratu ingin bertemu.
"Aku sudah memerintahkan untuk melarang seorangpun masuk!" seru Hwon kesal. "Jangan katakan kalau kau lupa!"
Kasim berlutut di hadapan Hwon. "Yang Mulia, kumohon..."
Para dayang ikut berlutut. "Yang Mulia!"
Hwon menarik napas dan mempersilahkan Ratu masuk.
"Bagaimana kesehatanmu, Yang Mulia?" sapa Bo Kyung.
"Seperti yang kau lihat, aku sangat sehat." jawab Hwon ramah. "Apakah ada hal penting yang membuat Ratu datang kemari malam-malam?"
Kasim tersenyum lega melihat keramahan Hwon pada Bo Kyung. Ia memohon diri untuk pergi.
Bo Kyung meminta Hwon agar memiliki penerus kerajaan. "Aku tidak sanggup menghadapi Ibu Suri." katanya. "Mohon angkatlah seorang selir untuk memiliki penerus kerajaan."
"Apa kau tulus?" tanya Hwon.
"Sebagai ibu negara, bagaimana mungkin aku mendahulukan kepentingan pribadi." kata Bo Kyung.
"Benar." kata Hwon, terlihat iba. "Kini aku tahu kenapa kau memperoleh cinta dan penghormatan dari banyak orang. Aku sunggu tidak tahu kalau kau berpikir sejauh itu. Kau pasti sangat menderita selama ini karena aku."
Bo Kyung tersenyum.
"Aku akan memenuhi permintaan Ratu." kata Hwon. "Besok di depan para pejabat aku akan membicarakan mengenai pengangkatan selir."
Bo Kyung terlihat terkejut. "Yang Mulia..."
Hwon bertopang kepala. "Aku paling benci ketika mendengar Ratu berkata munafik." sindirnya. "Aku juga benci ketika melihatmu mengeluarkan kata-kata untuk memperoleh simpati. Jika kau sudah selesai bicara, kembalilah ke kamarmu dan beristirahat. Ini sudah malam."
Bo Kyung bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
"Sampai kapan kau akan memikirkan wanita yang sudah mati?" tanya Bo Kyung sebelum mencapai pintu, membelakangi Hwon. "Bagaimana mungkin tempat yang seharusnya diisi oleh orang yang masih hidup, masih saja ditempat oleh orang yang sudah mati?"
Mendadak Hwon merasa sakit di dadanya.
Bo Kyung masih terus bicara tanpa tahu keadaan Hwon.
Hwon berusaha memanggil, namun ia tak kuasa bersuara. Ia pingsan.
Bo Kyung masih terus bicara. Ia kemudian menoleh dan terkejut melihat Hwon sudah pingsan.
Ia bergegas memanggil kasim dan dayang di luar.
Para tabib memeriksa Hwon, namun tidak ada satupun yang tahu mengenai penyebab sakitnya Hwon.
Ibu Suri memutuskan untuk memanggil kembali Nok Young ke istana. Ia merasa Ketua Shaman yang sekarang tidak punya kemampuan untuk melindungi Raja.
Hwon meminta Woon mencari Wol.
"Temukan gadis itu." ujar Hwon. "Ada sesuatu di matanya yang membuatku cemas. Aku yakin ia menyembunyikan sesuatu dariku. Mereka sangat mirip. Jika ia masih hidup, ia pasti akan kelihatan seperti gadis itu."
Woon pergi mencari Wol atas perintah Hwon. Namun rumah Wol sudah kosong. Ia tidak bisa menemukan siapapun di sana.
Yeon ditegur oleh ibunya karena selalu membuat Min Hwa merasa kesepian.
"Jangan perlakukan dia sebagai adikmu. Perlakukan ia sebagai istrimu." kata ibu. "Ia sudah berjasa banyak pada keluarga kita."
Tiga orang pria mendatangi kediaman Nok Young.
Nok Young langsung memerintahkan Jan Shil mengajak Wol masuk ke dalam rumah.
Ketiga orang tersebut adalah astrolog. Mereka meminta Nok Young kembali ke istana untuk membantu kesembuhan Raja.
Nok Young menolak keras.
"Gadis itu." ujar salah satu astrolog. Orang yang dimaksud adalah Wol. "Apakah ia adalah penerusmu? Orang yang kau daftarkan di Balai Samawi atas namamu?"
Nok Young tidak menjawab dan meminta ketiga pria itu pergi.
Ketiga astrolog merencanakan sesuatu.
Wol pergi ke desa untuk mencari Seol, namun tidak bisa menemukannya. Ia mencoba menggunakan kekuatan spiritualnya, namun gagal.
"Apakah kekuatanku sudah hilang?" gumam Wol. "Lalu, apa yang kulihat tempo hari?"
Wol mengingat pertemuannya dengan Hwon.
Wol berjalan lagi.
Mendadak tiga orang pria menghadang jalannya.
"Siapa kalian?" tanya Wol.
Tanpa menjawab, ketiga pria itu menyekap Wol.
Wol dimasukkan ke dalam sebuah peti.
Wol panik. Trauma kehabisan oksigen di dalam peti mati terlintas di kepalanya.
Wol menggedor-gedor peti, merasa sesak napas.
"Kenangan milik siapa itu?"

0 komentar em “Sinopsis The Moon That Embraces The Sun Episode 7”

Posting Komentar

Label

#LERB (7) 19-Nineteen (2) 49 Days (23) A Gentleman’s Dignity (1) Action (8) Adventure (19) Agen Bola PENIPU (1) Agoeng Nadh (1) Ajip Rosidi (1) Aliens (3) Amanda Ashby (1) Amore (3) Antivirus (3) Apocalyptic (9) Arang and the Magistrate (1) Astrid Zeng (3) Baby Faced Beauty (4) Baca blogspot (3) Baca Cerita Drama korea (34) BBI (8) Behind The Scene 49 Days (15) Behind the scene Marry me mary (1) Belanda (1) berita (4) BIG (5) Biografi (1) Books in English Challenge (4) C REAL (1) C-Real (1) can you hear my heart (5) Cerita Abunawas (8) Challenge (7) Character Thursday (1) Cheat Lost Saga (6) Cheat PB (1) Chicklit (2) Childrens (3) China (2) chit-chat (9) Choi Daniel (1) Choi Min Ho (1) Chris Dyer (1) Christina Tirta (1) City Hunter (16) Classic (5) Competition (2) Contemporary (6) Contest (2) Crissy Calhoun (1) Cultural (7) Daftar isi (1) Daniel Choi (1) Death (3) Delirium (1) Djokolelono (1) download (9) Download Film (1) Download IDM Terbaru (1) Download Kpop (3) Dr. Jin (1) Drama (8) Dream High (4) Dream High 2 (7) Dystopia (11) Earthsea Cycle (1) Eugene (2) Eun Jung (1) EXO (1) Fairies (1) Family (2) Fantasy (27) Feby Indirani (1) Film baru (1) Flower Boy Ramyun Shop (5) Flower Boy Ramyun Shop cute teaser (2) Francisca Todi (1) Gado - Gado (5) gambar lucu (1) game (1) game hp (2) Gayle Forman (2) Giveaway (8) Glorius Jae In (1) Glory for Jane (1) Golok Pembunuh Naga (5) Goo Hara (2) Goo Hye Sun (1) Goodbye Miss Ripley (2) Han Hyo Joo (1) Hanakimi korea (3) Header (3) Heartstrings (48) Heartstrings behind the scene (9) High Kick 2 (1) High Quality Dream High 2 (6) Historical Fiction (4) Holocaust (2) Horror (2) Humor (7) Hunger Games (7) Hyorin (1) If I Stay (2) Ika Natassa (3) Ilana Tan (3) Im Joo-hwan (1) indehost (2) Indonesia (16) info (3) IU (9) James Patterson (1) Jane Austen (1) Jang Geun-suk (5) Jang Nara (1) Jepang (2) Jiyeon (3) Jo Hyun Jae (4) John Boyne (1) Jules Verne (1) Jung Il Woo (12) Jung Yong Hwa (1) Jung Youn Hwa (3) Just-For-Fun-RC (2) Karla M. Nashar (1) Ken Grimwood (1) Kim So Eun (3) Kim Soo Hyun (1) Kimi ni todoke/From Me To You (1) kontes Seo (7) Korea (6) Korean Movie (2) Krystal (1) Kunci Jawaban (1) L.J. Smith (2) La Mian (1) Lauren Oliver (1) Lee Jin Ki (3) Lee min ho (11) Lee Yo won (2) Lia Indra Andriana (5) Lie To Me (26) Lorien Legacies (2) Love rain (1) lucu (3) M.G. Harris (2) Maggie Tiojakin (1) Magic (3) Man of Honor (2) Man of Honor ost (3) Marc Levy (1) Marry me Mary (2) Mary Kay Andrews (1) Mary Rodgers (1) Mason Moon (1) Me too flower (1) Meg Cabot (1) Metropop (8) Moammar Emka (1) Moon Geun Young (6) Music (3) My Princess (1) Mystery (5) Myth (2) Myung Wol the Spy (1) Name In A Book Challenge (6) Naruto shippuden (5) Ninit Yunita (1) Non-Fiction (7) Olahraga (4) Onew (31) Operation Proposal (9) Operation Proposal Episode (2) Orizuka (2) Ost 49 Days (4) Ost City Hunter (5) Ost Dream High 2 (9) Ost flower boy ramyun (3) Ost Heartstrings (17) Ost Lie To Me (8) ost poseidon (3) Paranormal (10) Park Min Young (6) Park Shin Hye (5) Penerbit Andi (1) Penerbit Atria (1) Penerbit Authorized Books (1) Penerbit Avon Books (1) Penerbit Bentang (1) Penerbit Buku Katta (1) Penerbit Bukune (1) Penerbit Elex Media Komputindo (1) Penerbit Escaeva (1) Penerbit Gagas Media (4) Penerbit Gradien Mediatama (3) Penerbit Gramedia (27) Penerbit HarperCollins (2) Penerbit Haru (3) Penerbit Mahda Books (1) Penerbit Matahati (3) Penerbit Mizan (6) Penerbit Nulisbuku (1) Penerbit Pustaka Jaya (1) Penerbit Qanita (1) Penerbit Scholastic (1) Penerbit Serambi (2) Penerbit Terakota (1) Penerbit Ufuk Press (2) Perancis (2) Pittacus Lore (3) Poseidon (11) Prediksi Skor (2) Pretty Little Liars (1) Preview Dream High 2 (4) Princess Man (1) PROFILE PEMAIN BOYS BEFORE FLOWERS (1) Queen In-hyun’s Man. (4) Raja gombaL (1) Retni SB (1) Ripley (2) Romance (51) Rooftop Prince (3) Running Man episode (2) Salamander Guru and the Shadows (2) Sara Shepard (1) Scene City Hunter (3) Science Fiction (19) Scott Westerfeld (3) Sherlock SHINee (6) SHINee (1) Short Stories (4) Simone Elkeles (1) Sinopsi Man of Honor (1) sinopsis (70) Sinopsis 19-Nineteen (2) Sinopsis 49 days (2) Sinopsis Dream High 2 (14) Sinopsis Flower Boy Ramyun Shop (24) Sinopsis Heartstrings (26) Sinopsis Lie To Me (17) Sinopsis Man of Honor (14) Sinopsis Operation Proposal (2) Sinopsis Poseidon (2) Sinopsis The Musical (1) smadav 90 pro (1) software (9) Song Ji Hyo (1) Song Joong Ki (1) Stefiani E. I. (1) sub indo (2) Supernatural (8) Suzanne Collins (7) Suzy (1) Taiwan (1) Tatiana De Rosnay (1) Teaser Tuesdays (10) Teenlit (2) tempat add bookmark (1) The Avengers 2012 (1) The Greatest Love (1) The Joshua Files (2) The Moon That Embraces The Sun episode (14) The Musical (1) The Thorn Birds episode (25) The Vampire Diaries (3) Threes Emir (1) Thriller (4) Time Travel (2) Tips SEO (1) tips trick (7) To liong to (4) Travelogue (5) uang (1) Uglies (3) Ursula K. Le Guin (1) US (27) Vampires (3) Virginia Novita (1) W. Somerset Maugham (2) War (2) Warrior Baek Dong Soo (8) Warrior Baek Dong Soo ost (2) web hosting (1) what' up (1) Widget Blog (1) Windy Ariestanty (1) Wishful Wednesday (2) Won Bin (1) Wooyoung (1) Yoo Seung ho (5) Yoon Eun Hye (2) Yoon Shi Yoon (1) Yoona SNSD (1) You are into me (1) You fell in love with me (1) You Have Fallen For Me (1) Young Adult (37) Yudhi Herwibowo (1) Zodiak (1)
 

Gudang Sinopsis Drama Korea Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger